Buku Cara Cepat Hamil

Buku Cara Cepat Hamil
Pesan Buku Panduan Cepat Hamil tinggal klik saja gambarnya

Wednesday, April 7, 2010

Arrange Married

Hotel Murah di Pangandaran - Malika, seorang gadis yang berasal dari Punjab, India. Dia dibesarkan di Amerika dari umur lima tahun hingga menyelesaikan kuliah di Harvard Univeristy. Sebagai gadis modern, lingkungan pergaulannya mengajarkan dia untuk bebas memilih pujaan hatinya. Apa daya, begitu selesai menamatkan kuliahnya, keluarganya telah mengharuskan dia untuk menikah dengan pria yang dipilihkan keluarganya.

Hotel Murah - Deewani, juga seorang gadis yang berasal dari Madras, India. Dia menamatkan program residency kedokterannya di Missouri University. Oleh keluarga besarnya dia dijodohkan dengan seorang pria yang sama sekali tidak dikenalnya melalu biro perjodohan yang diatur oleh para tukang ramal( rashi) di kota tempat kelahirannya, Chennai. Dia menolak dan memutuskan untuk menikah dengan pujaan hatinya, akibatnya dia dikucilkan oleh keluarganya.

Arrange Married atau pernikahan melalui perjodohan adalah tradisi dan adat istiadat masyarakat yang berasal dari India, Pakistan, Bangladesh, maupun negara-negara di jazirah arab. Perbedaan besar dari perjodohan di South Asia dan negara jazirah arab adalah, negara-negara south asian mengenal perjodohan melalui rasi/zodiak serta kasta sedangkan di jazirah arab melalui bibit, bebet, bobot suatu keluarga atau perjodohan antara sepupu.

Di India, perjodohan merupakan syarat mutlak suatu pernikahan. Pacaran adalah sesuatu yang tabu. Tradisi masyarakat India yang mengutamakan kepentingan keluarga menempatkan perjodohan sebagai upaya untuk melindungi martabat dan kasta. Orang tua mendidik dan merawat anak dan anak diwajibkan mematuhi perintah orang tua.

Biasanya orang tua mencari calon menantu dari kalangan keluarga yang memenuhi syarat antara lain: kasta, ekonomi, soasial status, dan agama. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi keluarga mereka dari hal-hal yang timbul di kemudian hari akibat adanya perbedaan status tersebut.

Perjodohan biasanya dilakukan ketika anak-anak mereka masih berusia kanak-kanak, hal ini dilakukan agar ketika anak-anak mereka dewasa, mereka tidak “semau gue” memilih jodohnya masing-masing. Bahkan di negara-negara bagian tertentu di India, para orang tua menikahkan anak-anak mereka sebelum mereka masuk masa pubertas.

Walaupun pernikahan dibawah umur tidak diperbolehkan menurut hukum negara, orang tua tetap memaksakan kehendak dan nekat menikahkan mereka melalui sistim adat (tidak terdaftar dalam hukum). Sebagian besar orang tua yang takut hukum, tidak menikahkan anak mereka sejak kecil tetapi memaksakan mereka untuk diperjodohkan, dan umumnya dengan ancaman tidak diakui keberadaannya, dibuang dari warisan, dan sebagainya.

Uniknya lagi, perjodohan banyak dilakukan oleh kalangan yang berstatus sosial dan ekonomi tinggi di negara-negara South Asia, demi memprotect status mereka. Pada umumnya, masyarakat yang berada di kasta rendah, tidak memperdulikan perjodohan. Karena bagi mereka tidak ada yang perlu dipertahankan, harta tidak ada, kasta pun hanya sekedar kasta waisya atau sudra.

Zaman sekarang, perjodohan di negara-negara ini melibatkan agen perjodohan professional. Mak comblang ini mencharge harga yang sangat mahal dalam mencari calon-calon pengantin. Mereka punya website sendiri yang mencantumkan, ras, zodiac, status sosial, tingakt pendidikan, hingga besarnya dowry yang diminta.

Dowry adalah harga mati yang diajukan pihak pria. Semakin tinggi tingkat pendidikan dan status sosial si pria, semakin tinggi harga dowrynya. Jangan harap gadis-gadis dari kasta rendah atau status sosial yang rendah bisa bersaing. Setiap syarat dowry memiliki due date, apabila sampai batas waktu tertentu pihak wanita tidak melunasi dowry yang diminta, maka keluarga si laki dengan seenaknya melempar si wanita kembali ke keluarganya. Sayangnya, banyak gadis-gadis itu mengalami nasib berakhir dengan kematian.Hal ini yang masih sering terjadi di India, bahwa wanita-wanita yang dilempar oleh keluarga suaminya, dibunuh dengan cara dibakar, diculik dan dianiaya, bahkan ada yang dihilangkan dengan sengaja.

Shamin Sultana, seorang gadis muda rupawan yang tewas setelah dibakar hidup-hidup oleh ibu mertuanya karena ayah nya tidak sanggup melunasi dowry yang disyaratkan oleh keluarga suaminya. (http://www.highbeam.com/doc/1P2-16030588.html).

Sunita Bhargava, seorang ibu dengan dua anak, mengalami penyiksaan mental, psikis, dan sexual yang dilakukan oleh suami dan mertua perempuannya karena menurut mereka ayah dan keluarganya tidak mampu melunasi dowry yang diwajibkan. Sekarang dia harus hidup mengelandang di daerah kumuh di India dan dilarang bertemu dengan anak-anaknya. (http://www.cnn.com/WORLD/9608/18/bride.burn/)

Dalam kurun waktu 1987 – 1994, lebih dari 35,000 wanita di India mati dibunuh oleh mertua perempuan atau keluarga suaminya karena orang tuanya tidak mampu membayar dowry. Jumlah ini didapat dari catatan biro statistic yang diterbitkan National Crime of India. Paling banyak tercatat di New Delhi, Punjab, Haryana, sampai kebagian Utara India.

Yang lebih menyedihkan praktek pembunuhan ini didukung sepenuhnya oleh keluarga si gadis sendiri yang merasa malu karena anaknya dikembalikan. Ditambahkan menurut peraturan dowry, si ayah wajib mutlak melunasi hutang dowrynya atau bernasib dipenjarakan

http://india-facts.com/news/women-abuse/2008122150/bride-burning-dowry/

Lalu bagaimana dengan masyarakat India yang hidup di luar negeri dan tidak mampu memenuhi kewajiban membayar dowry, apakah mereka bernasib sama dengan saudari-saudarinya di India sana?. Saya menanyakan kepada komunitas India di Overland Park, Kansas. Menurut mereka; Hampir sebagian besar komunitas India disini berasal dari kalangan intelektul dan akademis, dimana mereka sudah sedikit melenceng dari sistim dowry dan adat perjodohan.

Orang tua wanita sebagian besar menjodohkan anak mereka dengan pria yang diimpor langsung dari India. Cukup cerdik kalau saya boleh berpendapat; sebab dawry yang diminta jumlahnya masih tergolong murah dan keluarga wanita dengan mudah memenuhinya karena income mereka jauh lebih besar dari income keluarga si lelaki.

Conclusion

Malika memenuhi permintaan orang tuanya. Mr.dan Mrs.Kapoor menghubungi agen perjodohan bergengsi di Bangalore, dengan membayar $ 200 Malika diberikan akses untuk memilih 1 – 40 foto. Para calon suami itu berpendidikan tinggi dan rata-rata berkerja di silicon valley of India. Dowry yang diminta paling tinggi adalah 4 juta rupee termasuk murah untuk ayahnya yang pengusaha restaurant. Sekarang dia sudah menikah dan tinggal di Kansas City, suaminya bekerja di bidang IT di Sprint. Malika sendiri bekerja sebagai consultant di Wadell.

Deewani terpaksa memutuskan percintaannya karena dia masih takut kehilangan keluarganya. Dia akhirnya menikah dengan pria yang dipilih orang tuanya melalui shaadi.com. Walaupun dia tidak mencintai suaminya dia memutuskan untuk mencoba.

Yang menarik dari perjodohan ala India ini, justru perceraian jarang terjadi. Separah apapun pernikahan yang mereka jalani. Para isteri India ini akan berusaha keras untuk mempertahankannya. Walaupun terkadang suami-suami mereka punya affair, mereka akan berkilah: “Lord Khrisna punya 16,000 pacar, namun dia hanya memiliki satu orang isteri”.

No comments:

Post a Comment